Rupa-Rupa Makna Hidangan Imlek

Stoica.idCatering Sehat Jakarta. Dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, Imlek merupakan perayaan Tahun Baru atau Sin Tjia. Perayaan ini juga mengacu pada pesta para petani untuk menyambut musim semi. Tentu perayaan ini dipestakan relatif besar-besaran dengan hidangan yang menyimpan beragam makna filosofi yang agung dan penuh pengharapan.

Sebagai negara agraris, dahulu masyarakat Cina menyambut pergantian musim dingin menuju musim semi secara meriah karena hal ini sekaligus pertanda musim panen datang karena diawali munculnya matahari. “Jadi sebenarnya Tahun Baru Imlek merupakan perayaan bagi para petani,” tutur Bpk. Mas Dani (57), pakar fengshui dan budayawan. Sebelum Imlek, masyarakat umumnya membersihkan rumah karena keluarga akan berkumpul di rumah orang tua untuk bersembahyang, lalu makan bersama.

Sementara di Tiongkok, perayaan Imlek ditandai dengan libur panjang dan mudik ke kampung halaman. Simbol perayaan Imlek diwakili beragam hidangan makanan yang memiliki beragam simbol harapan, seperti kemakmuran, panjang usia, keselamatan, hingga keutuhan keluarga. Beragam hidangan istimewa ini tersusun rapi di atas meja sembahyang.

Makna Beragam Buah

Terdapat beragam buah yang disajikan saat Imlek. Menurut Mas Dani, dua sisir pisang merupakan buah yang wajib disajikan. Biasanya berjenis pisang raja. Kedua sisir pisang ditata berhadapan sehingga menyerupai kedua tangan yang berpegangan erat. Selain pisang, manggis pun wajib dihidangkan. Warnanya yang gelap menjadi lambang manusia.

Sementara saat dibelah, tampak bagian yang putih. “Ini merupakan simbol bagi setiap manusia untuk selalu memelihara isi hati agar selalu bersih,” jelasnya. Jeruk juga buah yang populer saat Imlek. Jeruk berasal dari kata ji-zi yang bermakna pada kebaikan yang akan memunculkan berkah dalam kehidupan. Jeruk bali kerap digunakan sebagai simbol berkah yang besar.

Begitu juga buah pir yang diambil dari kata “Li” dan bermakna pada harapan mendapatkan posisi yang baik di tahun mendatang. Bisa juga menjadi harapan pada kemakmuran sebuah jabatan. Namun uniknya, lanjut Mas Dani, keluarga bermarga Li justru jarang menghidangkan buah ini karena dianggap sebagai pantangan. Nama buah pun tak luput jadi perlambang. Misalnya srikaya yang menjadi harapan kekayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *