Rupa-Rupa Makna Hidangan Imlek Bagian 4

Selain kue keranjang, wajik juga menjadi favorit. Biasanya wajik dibentuk kerucut seperti tumpeng mini dan diberi warna merah yang melambangkan rejeki yang manis mengalir turun ke bawah, dan meluas. Filosofi pada hidangan ini juga berkaitan dengan 3 konsep ketuhanan wu chi yang disimbolkan sebagai lingkaran rahim.

Lalu kedua ada simbol tai chi atau maha ada dengan perumpamaan lingkaran dengan sebuah titik di bagian tengahnya. Filosofi terakhir adalah liang yi, yang berarti pembuahan yang disimbolkan dengan “yin yang”. Kue lainnya yang hadir saat perayaan tahun baru adalah moho. Ada pula kue dengan makna sejenis, yaitu kue mangkok.

Kedua jenis kue ini memiliki 4 sisi dengan harapan rejeki berdatangan dari 4 penjuru mata angin. Sementara kue lapis menjadi hidangan wajib sebagai lambang rejeki yang bertingkattingkat. Harapan panjang umur pun disimbolkan melalui kue ku yang dicetak berbentuk kura-kura.

Rupa-Rupa Makna Hidangan Imlek Bagian 2

Craftoflove.id –  Catering Pernikahan Jakarta. Sementara buah delima ikut disajikan karena bentuk buahnya yang bersekutu sebagai simbol kumpulan kebahagiaan yang menyatu. Semangka juga disajikan meskipun berwarna hijau gelap sehingga melambang kekelaman. Namun saat dipecahkan, buah merahnya menyiratkan kebahagiaan. “Makanya buah ini juga kerap ada saat suasana berduka seperti kematian. Namun sebelum dimakamkan, semangka dipecahkan hingga muncul kebahagian atau lambang mengakhiri duka,” imbuhnya.

Baca juga : rebornmind.org

Namun sebagian buah pun pantang disajikan karena dianggap memiliki makna kurang baik. Misalnya durian karena memiliki duri yang tajam, hingga salak yang jika diplesetkan dari nama buahnya menjadi kata “salah”. Buah lainnya yang pantang digunakan adalah anggur karena “menganggur” sangat tidak diharapkan dalam doa menyambut tahun yang baru.

Baca juga : revogayahidup.com

Hidangan Utama Saat Imlek

Jumlah hidangan utama umumnya tak ditentukan secara resmi. Selain berdasarkan kemampuan setiap keluarga, lanjut Mas Dani, jumlahnya juga ditentukan hidangan kesukaan leluhur. Jika menurut bahan dasarnya, tofu merupakan makanan wajib saat Imlek. Asal kata “dofu” yang dibaca tofu berasal dari kata “To” yang berarti banyak, sementara “fu” berarti rejeki atau hoki. “Sehingga tahun depan diharapkan banyak keberuntungan atau hoki,” jelasnya.

Sayuran hijau yang disajikan dengan akarnya juga disukai. Sayur dari kata “jay” (dibaca: cay), bermakna harta. Biasanya disajikan dengan cara diseduh air panas saja juga cukup. Simbol “yu” atau ikan memiliki makna “lebih”. Biasanya di Indonesia menggunakan ikan bandeng yang digoreng, dimasak kecap seperti pindang, atau tim. Ikan ini disajikan utuh, dan biasanya didiamkan semalaman sebelum disantap.

“Maknanya agar rejeki tidak pernah habis, dan akan ada terus hingga keesokan harinya,” imbuhnya lagi. Hidangan khas Imlek juga mewakili 3 sifat dari langit, bumi, dan lautan. Istilahnya disebut samseng atau san ying. Hidangan langit dari burung biasanya bisa diganti dengan unggas seperti ayam yang dikukus atau tim. Lalu dari daratan ada daging babi, dan dari laut ada ikan. Jika tak ada ikan, juga bisa diganti cumi. Hidangan para leluhur juga bisa disajikan. Misalnya sajian bakso goreng berbahan daging babi yang berbentuk bulat melambangkan keutuhan keluarga.

Rupa-Rupa Makna Hidangan Imlek Bagian 3

Sementara menu bubur yang melambangkan kemiskinan pantang disajikan ketika Tahun Baru Imlek. Pemilik rumah juga kerap mengikatkan batang tebu utuh di samping kanan dan kiri kusen pintu rumah. “Batang tebu yang memiliki ruas ini menjadi simbol harapan agar rejeki datang memasuki rumah dengan meningkat dari ruas ke ruas hingga ke atas dan terasa manis,” urainya.

Kue Manis Perlambang Harapan Baik

Selain masakan, kue juga mewarnai Imlek. Kue keranjang (nian gao) tentu yang paling populer. Secara simbolik, makna nian gao adalah perekat hubungan anggota keluarga, teman dan tetangga. Daya tahan kue yang lama hingga mencapai setahun juga menjadi lambang ketahanan hubungan yang merekat dan manis. Jika dilihat secara budaya, konon nian gao adalah perekat mulut bagi dewa dapur agar tidak melaporkan hal-hal yang negatif kepada dewa langit.

Rupa-Rupa Makna Hidangan Imlek

Stoica.idCatering Sehat Jakarta. Dalam kebudayaan masyarakat Tionghoa, Imlek merupakan perayaan Tahun Baru atau Sin Tjia. Perayaan ini juga mengacu pada pesta para petani untuk menyambut musim semi. Tentu perayaan ini dipestakan relatif besar-besaran dengan hidangan yang menyimpan beragam makna filosofi yang agung dan penuh pengharapan.

Sebagai negara agraris, dahulu masyarakat Cina menyambut pergantian musim dingin menuju musim semi secara meriah karena hal ini sekaligus pertanda musim panen datang karena diawali munculnya matahari. “Jadi sebenarnya Tahun Baru Imlek merupakan perayaan bagi para petani,” tutur Bpk. Mas Dani (57), pakar fengshui dan budayawan. Sebelum Imlek, masyarakat umumnya membersihkan rumah karena keluarga akan berkumpul di rumah orang tua untuk bersembahyang, lalu makan bersama.

Sementara di Tiongkok, perayaan Imlek ditandai dengan libur panjang dan mudik ke kampung halaman. Simbol perayaan Imlek diwakili beragam hidangan makanan yang memiliki beragam simbol harapan, seperti kemakmuran, panjang usia, keselamatan, hingga keutuhan keluarga. Beragam hidangan istimewa ini tersusun rapi di atas meja sembahyang.

Makna Beragam Buah

Terdapat beragam buah yang disajikan saat Imlek. Menurut Mas Dani, dua sisir pisang merupakan buah yang wajib disajikan. Biasanya berjenis pisang raja. Kedua sisir pisang ditata berhadapan sehingga menyerupai kedua tangan yang berpegangan erat. Selain pisang, manggis pun wajib dihidangkan. Warnanya yang gelap menjadi lambang manusia.

Sementara saat dibelah, tampak bagian yang putih. “Ini merupakan simbol bagi setiap manusia untuk selalu memelihara isi hati agar selalu bersih,” jelasnya. Jeruk juga buah yang populer saat Imlek. Jeruk berasal dari kata ji-zi yang bermakna pada kebaikan yang akan memunculkan berkah dalam kehidupan. Jeruk bali kerap digunakan sebagai simbol berkah yang besar.

Begitu juga buah pir yang diambil dari kata “Li” dan bermakna pada harapan mendapatkan posisi yang baik di tahun mendatang. Bisa juga menjadi harapan pada kemakmuran sebuah jabatan. Namun uniknya, lanjut Mas Dani, keluarga bermarga Li justru jarang menghidangkan buah ini karena dianggap sebagai pantangan. Nama buah pun tak luput jadi perlambang. Misalnya srikaya yang menjadi harapan kekayaan.